Jalan Kelompok Usaha Tani Di Desa Kelinjau Ilir Tidak tepat guna dan berdampak lingkungan

Telesiktuntas.com. 8.6.2021 – Salah satu lambannya  terwujud sebuah  Desa Sejahtera Mandiri adalah tersedianya kurang nya ketersediaan infrastruktur. Infrastruktur menjadi trending topic dalam masa Pemerintahan Jokowi dan salah satu  pembangunan infrastruktur yang menjadi  prioritas utama dalam pembangunan di Indonesia adalah pembangunan jalan sebagai salah satu penunjang pembangunan  ekonomi sampai di pedesaan

Namun Pemerintah jangan  menjadikan desa hanya sebagai objek pembangunan. Dimana  desa hanya dijadikan sebagai objek bersifat pasif untuk menerima program pembangunan dari pemerintah tanpa melakukan kajian terlebih dahulu prioriatas yang lebih penting  dibutuhkan oleh sebuah desa.. Dengan kondisi yang seperti ini menyebabkan infrastruktur, terutama akses jalan di pedesaan yang telah terbangun tadi fungsinya menjadi tidak tepat sasaran, tidak tepat guna dan tidak tepat waktu yang pada akhirnya yang telah terbangun tadi tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.

Membangun infrastruktur adalah membangun bangsa, bukan hanya membangun jalan saja, namun harus bersifat lebih luas dari itu dan merupakan kebutuhan yang lebih tepat guna . Membangun infrastruktur meliputi semua aspek, antara lain membangun jalan; jembatan; pembangkit listrik, puskesmas; sekolah; sarana dan fasilitas air bersih; fasilitas MCK; sumur; jaringan irigasi.

Seperti hal nya yang telah kami temukan di desa kelinjau ilir kecamatan Muara Ancalong, kabupaten Kutai Timur, adanya sebuah pembangunan akses jalan yang tidak menggunakan perencanaan yang matang baik dari sisi manfaat dan dampak lainya dari pembangunan jalan tersebut. Salah satu dampak dari pembangunan jalan tersebut adalah terjadinya genangan air yang lumayan tinggi di perkarangan atau di bawah perumahan layak huni yang di tempati oleh masyarakat desa kelinjau ilir, yang berada di jalan ke 4. Menurut laporan warga di perumahan tersebut, genangan air tersebut akibat dari pembangunan jalan Kelompok Tani ( jalan ke 5 ). Genangan air tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap. Setelah kami lakukan servey dilapangan,  hal tersebut terjadi dikarenakan pembangunan jalan tersebut tidak ditunjang oleh pembangunan drainase, serta kerusakan jalan yang cukup parah sehingga setiap terjadinya hujan air mengalir pada pemukiman warga “ perumahan layak huni ”.

Akibat genangan-genangan yang rutin tersebut maka warga perumahan layak huni membuat pernyataan pada rapat dengan LSM – Forum Pemuda pemantau kebijakan ( FP2K ) pada tanggal 7 juni 202, dimana warga merasa keberatan atas dampak lingkungan yang sangat menggangu kehidupan mereka dan meminta   agar bertanggung atas dampak lingkungan akibat pembangunan jawab akibat dari jalan ke 5 yang berlokasi pada RT 01 dan 02 desa kelinjau.

Jika kita pelajari dengan benar, pembangunan jalan tersebut sangatlah tidak tepat guna, tidak memiliki fungsi, karena pada akses jalan tersebut tidak terdapat kegiatan kelompok tani, “ namun dikatakan oleh pemerintah kecamatan dan pemrintah desa, jalan tersebut adalah jalan kelompok tani.

Dan bentuk jalan tersebutpun sangat aneh bentuk nya, berbentuk letter ( U ) memotong jalan yang sudah ada sebelumnya, yaitu jalan poros ke 3. namun proros ke 3 tersebut yang  dibangun oleh pemerintah kabupaten Kutai Timur pada tahun 2011, terkena tanah hak milik salu satu warga masyarakat Kelinjau Ilir dan  sampai dengan saat sekarang, hak anggota masyarakat yang tanahnya dijadikan jalan tersebut belum mendapat penggantian oleh pemerintah kabupaten Kutai Timur, sehingga sebuah kewajaran dan tidaklah bertentangan dengan hukum jika terkadang pemilik tanah yang terkena dampak jalan melakukan portal diatas jalan poros jalur 3 tersebut. Pemerintah kecamatan dan perintah desa kelinjau ilir bukannya membantu atau menjadi mediator terhadap pemerintah kabupaten Kutai Timur untuk menyelesaikan claim pemilik tanah tersebut, namun sebalik nya, malah membuat jalan memotong pada jalur jalan poros yang menjadi claim warga masyarakat tersebut.

Namun apa yang terjadi, akibat dari perencanaan yang salah, justru jalan ke 5 yang berbentuk letter ( U ) yang memotong jalan proros ke 3 tersebut akhirnya hanya menimbuklan dampak lingkungan bagi warga permuhan layak huni.