Take a fresh look at your lifestyle.

Dunia Dalam Cengkraman Covid 19

32

COVID 19 adalah sebuah peringatan dari Allah SWTSeharusnya secara bersama-sama semua rakyat Indonesia bahkan dunia disiplin dengan protokol kesehatan dan berjuang keras menahan diri,  tawakal, bersabar, istiqomah dalam ibadah serta menjauhkan dari prilaku-prilaku yang berbau kemaksiatan

 

Ditulis oleh : Helmi Gais – 11-02-2021

Telisiktuntas.com– coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19, telah satu tahun lebih meyerang penduduk dunia pertanggal 10 pebruari 2021, dikutip dari https://www.covid19.go.id 23 negara, Terkonfirmasi 106.321.987,Meninggal 2.325.282. awal covid 19 masuk di Indonesia  Senin, 2 Maret 2020, Indonesia masuk ke dalam negara yang terjangkit virus corona. menjangkiti dua warga Indonesia, tepatnya di kota Depok, Jawa Barat. Sejak itulah covid 19 kian menyebar dari satu orang ke orang lain, dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia,

Kita telah mengetahui  melewati media-media online dari beberapa pakar epidemiologi yang memprediksikan puncak penyebaran covid di Indonesia sekitar bulan mei dan akan berakhir pada bulan juli 2020, ternyata analisa tersebut meleset, namun sebuah kewajaran jika meleset karena hanya sebuah prediksi, realitanya penularan covid 19 di Indonesia semakin meluas, Positif 1.183.55  Sembuh 982.972 Meninggal 32.167 Update Terakhir: 10-02-2021 ( dikutip dari https://www.covid19.go.id )

Penyebaran covid 19 bukan nya mencapai puncaknya, namun saat seaerang seperti yang kita ketahui bersama covid 19 telah bermutasi menjadi varian baru penularan nya bisa mencapai 71 persen lebih cepat dan ini terjadi disaat negara-negara maju telah berhasil memproduksi vaksin covid 19.

Para tokoh-tokoh agama menyatakan bahwa covid 19 adalah sebuah peringatan dari Allah SWT, karena mungkin kemaksiatan di muka bumi ini semakin menjadi,  dipertontonkan dan sudah menjadi sebuah kebanggaan, namun mungkin saja covid 19 ini bukan hanya peringatan biasa dari Allah tapi sudah merupakan peringatan keras.

Menurut Ulama Tafsir Indonesia Prof Dr Muhammad Quraish Shihab mengemukakan sisi lain tentang keberadaan Covid-19 yang tengah melanda negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Menurut Shihab, wabah Covid-19 merupakan peringatan dari Allah, bukan siksaan. ( dikutip dari NU Online Senin 13 April 2020 )

Covid 19 telah membuat penduduk dunia  resah, penuh kekuatiran dala melakukan dari berbagai macam aktivitas nya sehari-hari,  juga telah memberi dampak negatif terhadap perekonomian global,  sebagian kebebasan manusia telah dirampas oleh keberadaan covid 19, jarak bersosialisasi diatur, harus pakai masker dan sering cuci tangan, sampai pada pelaksaan beribadah dalam bentuk berjamah pun diatur jarak antara jemaah yang satu dengan jemaah yang lain, bukan sampai disitu saja, pelaksanaa ibadah haji umrah sempat tertunda dan ibadah haji wajib pun tahun 2020 ditiadakan.

Pendapat para ulama yang mengatakan covid 19 adalah sebuah musibah, sebuah peringatan dari Allah SWT, seharusnya secara personal masing di sikapi dengan lebih banyak melakukan intropesi diri akan prilaku diri, bagaimana kita bisa mendudukan hak-hak Allah pada diri kita, apakah kita adalah orang yang senantiasa kufur nikmat, melakukan hal yg terbalik, yaitu meninggalkan perintah nya dan melakukan apa yang dilarang Allah SWT atau orang yang senantiasa bangga akan dosa dan kesombongan dengan cara dengan sengaja meninggal kan sholat, atau kita termasuk orang-orang yang istiqomah dengan sholat dan ibadah-ibadah lain. Jika kita kufur nikmat dengan sengaja meningggal kan perintah sholat itu adalah sebuah bentuk aplikasi sifat sombong “ Bukankah kita semua mengetahui bahwa yang pertama kali mendekrasikan kesombongan itu adalah Iblis “

“Dari Uqbah bin ‘Amir RA, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah SAW, bersabda, “Orang yang meninggal dunia, dan ketika ia meninggal itu di dalam hatinya masih ada sebesar biji sawi dari sombong, maka tidaklah halal baginya surga, tidak mencium baunya dan tidak pula melihatnya”. [HR. Ahmad, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 566].

“Penghubung antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Ahmad, Muslim)

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat .” (QS. Al-Mudatsir: 42-43).

Disaat seperti sekarang ini dimana dunia dalam cengkraman covid 19 kita harus meningkatkan ibadah pada Allah SWT agar Allah segera melenyapkan covid 19 ini, maka diperlukan juga keseimbangan yaitu dengan cara ihtiar melalui pendisiplinan diri menjaga protocol kesehatan. Ihtiar merupakan sebuah kewajiban untuk dapat dilaksanakan,, tentang ihtiar telah  di isyaratkan oleh Rasullullah dalam sebuah hadist :  Anas bin Malik menceritakan seorang laki-laki yang berkata, “Ya Rasulullah SAW, apakah aku harus mengikat untaku dan bertawakal pada Allah SWT atau melepaskannya dan bertawakal pada Allah SWT?” Rasulullah SAW berkata, “Ikat untamu dan bertawakal pada Allah SWT.” (HR At-Tirmidzi).

Yang paling membingungkan adalah, dimasa pandemi yang kian mengganas saat ini, banyak kita saksikan mereka yang melalaikan protokol kesehatan baik di pasar, di café atau koraoke atau tempat hiburan malam lain nya, café sudah terdapat dimana-mana, menjadi sesuatu tempat yang sangat disukai pada saat sekarang, dan lumrah-lumrah saja seseorang untuk merefresh dirinya dimasa pandemi dengan  mencari hiburan pada malam hari namun hendaknya tetap disiplin dengan protokol kesehatan.

Mungkin kita pernah melihat café-café di pusat kota dimana mejanya berukuran sangat kecil dan di kelilingi oleh beberapa orang tanpa protokol kesehatan dan minim pengawasan  aparat yang terlibat dalam pendisiplinan protocol kesehatan. Seharusnya pula dimasa pandemic yang kian mencekap seperti saat ini, menajuhkan diri dari kumpul-kumpul yang identik dengan prilaku maksiat, saat ini dimasa pandemi ini seharusnya menahan diri dari hal-hal berbau kemaksiatan, dan memperbanyak ibadah dan istigfar. Harus membuang jauh-jauh asumsi-asumsi negative atau mungkin berbau hoax  tentang penanggulangan covid 19, karena hal tersebut akan membuat pihak-pihak tertentu semakin lalai dalam melaksanakan protokol kesehatan dan di jadikan sebagai alasan untuk mempermudah kumpul-kumpul tanpa protokol kesehatan.

Demikan juga pihak pemerintah tidak pula setengah-setengah atau mungkin tebang pilih dalam melakukan penertipan, serta tidak perlu melakukan tindakan penutupan terhadap usaha-usaha rakyat, namun dengan cara melakukan pengasawan secara intensif, dengan menempatkan para petugasnya di tempat-tempat berkumpul nya orang-orang

Ada hal lain nya yang akan membuat rakyat menjadi marah dan akan semakin mengurangi kepercayaan terhadap pejabat pemerintah, yaitu terjadi nya kasus tindak pidana korupsi dimana negara yang kita cintai ini berjuang keras melawan covid 19, dan ada kasus korupsi  yang berhubungan denga bantuan sosial buat rakyat miskin di masa pandemi. serta memungkinkan saja ada tindak tidana korupsi lain nya  yang tidak terungkap, mungkin saja ada oknum-oknum yang melakukan korupsi kecil-kecilan dan bersifat kontinyu dan dari angka-angka yang kecil-kecil tersebut cukup untuk kredit mobil, rehap rumah dan menyekolahkan anak keluar daerah, dan yang kecil-kecil tersebut mungkin sudah rutin pula dilakukan hingga tetap dilakukan walau dimasa pandemi sekarang ini.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

Allaahumma innii’auudzu bika minal baroshi wal junuuni wal judzaami wa sayyi il asqoom

“Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra dan keburukan segala macam penyakit.”

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.