Take a fresh look at your lifestyle.

Wanita, Feminisme dan Kodrat nya

40

Ditulis oleh :

Hj. Aida Mediana Bachtiar,SE,.M.M

telisiktuntas.com – Sudah sekian abad, sejak jaman kenabian perjuangan untuk  menghapus dikriminasi terhadap kaum wanita merupakan sejarah panjang bagi kaum hawa, namun perjuangan untuk menghapus diskriminasi terhadap wanita tetap berlanjut hingga saat sekarang, walaupun persentase diskriminasi terhadap wanita sudah begitu rendah. wanita tidak dapat didudukan harkat dan martabat nya jauh dibawah kedudukan laki-laki, wanita bukan sebuah alat pelengkap

dihadapan atau disamping laki-laki. Wanita dan laki-laki bersifat saling melengkapi satu sama lain nya, jika tidak sangat mustahil sebuah rumah tangga bisa berjalan langgeng, sangat mustahil sebuah negara bisa berjalan dengan baik jika tidak ada wanita.

“ Wanita dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama dihadapan Tuhan, dan yang membedakan diantara keduanya hanyalah masalah ketaqwaan.” .

Perbedaan wanita dan laki- laki hanya tertelak pada tanggung jawab masing-masing secara kodrati, wanita sebagai istri dan ibu anak-anak, yang mengalami proses mengandung seorang janin, dan menyusui, merawat serta mendidik anak-anak, bahkan seorang ibu memiliki kedekatan melebihi seorang ayah dalam mendidik anak, dikarenakan kesibukan seorang ayah dalam mencari nafkah, Jika tanggung jawab seorang wanita menyusui, merawat, memasak, mencuci untuk anak nya tersebut di bebankan pada seorang lak-laki ( ayah ) sangat kecil sekali persentasenya seorang laki-laki mampu menjalankannya, dari sinilah kenapa seorang wanita atau seorang ibu harus dijaga dan diangkat kedudukannya sebagai seorang wanita. Wanita juga harus menghormati serta menjaga kehormatan laki-laki ( suami ) karena suami  adalah pemimpin, menjaga dan melindungi istri dan anak-anak nya, mendidik, tulang punggung mencari nafkah, , Ringankah tanggung jawab itu? tentunya tidak,.. tugas ini sangat berat. dan itu juga bersifat qodrati.

Perbedaan peran wanita dan pria dalam keluarga tidak bisa dianggap sebagai bentuk penindasan atas kaum wanita, hal tersebut adalah bersifat normatif dalam kehidupan berumah tangga, jika ada anggapan seperti itu, maka laki-laki pun bisa protes, “Kenapa saya harus memberi nafkah? Saya yang capek kerja, berarti apa yang saya dapat adalah milik saya dan saya bebas menggunakannya sesuai keinginan saya, dan sesungguhnya hal tersebut tidaklah harus terjadi, kata kuncinya adalah mengembalikan kodrat masing-masing dalam sebuah ranah keharmonisan dan kasih sayang.

Sebagai wanita kita harus memiliki dan mempertahankan paham-paham  tentang feminisme dan femenisme bukan lah sebuah paham yang menyalahi kodrat kewanitaan, feminisme ada lah sebiah paham yang memperjuangkan ketidak seimbangan permasalahan gender yang sudah terjadi sejak jaman dulu, ketika wanita tidak lagh dianggap sebagai manusia yang seutuhnya, yang tidak memperoleh hak dan kedudukan nya sebagai manusia, feminism memperjuangkan agar wanita menjadi lebih baik dari semua bentuk ketidakadilan akan hak-hak nya

Wanita yang feminin disebut-sebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki sifat dan perangai yang lembut
  2. Cenderung lebih sensitive
  3. Bersifat keibuan, penuh dengan kesabaran
  4. Manis dan manja
  5. Cenderung tidak mandiri ( kemandirian identik dengan sifat maskulin )
  6. Menyukai warna-warna yang cerah atau pun lembut.
  7. Gemar menggunakan rok ketimbang celana.
  8. Gemar berdandan dan merawat diri.

Keberadaan status wanita di negara ini sangatlah lama mengalami ketidakadilan, dan sejarah telah mencatat atas ketidak adilan tersebut, sebut saja sejak pada saat negara ini masih dalam kekuasaan kerajaan / kesultanan sampai era reformasi, ada sekian banyak wanita di nusantara ini mengalami intimidasi terhadap hak nya sebagai manusia ciptaan Tuhan. Belum lagi yang sering terjadi pelecehan-pelecahan terhadap wanita.

Sebagaimana kita ketahui pada masa memasuki abad ke 19 ada seorang wanita yang bernama R.A. Kartini yang menjadi pelopor pergerakan hak-hak dasar wanita  ( emansipasi ), walau pergerakan beliau saat itu tidak berlangsung lama, karena wafat pada usia muda (21 April 1879 – 17 September 1904 ). Pergerakan R.A. kartini tersebut menjadi pelopor pergerakan emansipasi wanita Indonesia, walau realitanya nya hak-hak wanita di Indonesia tetap terintimidasi dari berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah diproklamirkannya kemerdekaan Bangsa Indonesia dan dipimpin oleh  Presiden Ir. Sukarno 1945 – 1966, yang disebut era orde lama. Kemudian dilanjutkan era orde baru 12 Maret 1967 – 21 Mei 1998, yang dipimpin oleh presiden Suharto. Di dua era tersebut negara belum memberikan kebebasan akan hak-hak dasar pada kaum wanita.  Walaupun pada tahun 1984 negara telah mengeluarkan undang-undang  No. tahun 1984 tentang PENGESAHAN KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKIRIMINASI TERHADAP WANITA ( CONVENTION ON THE ELIMINATION OF ALL FORMS OF DISCRIMANATION AGAINST WOMEN).

Tahun 1978,  Pemerintahan orde baru membentuk lembaga untuk wanita dengan nama  lembaga  “ Urusan Peranan Wanita “  Namun kesempatan peranan wanita dalam dunia politik dan pemerintahan masih terbatas, semua masih bersifat abu-abu terkait hak-hak wanita sebagai warga negara yang sama kedudukannya di mata hukum  Barulah setelah memasuki era Reformasi tahun 1999 negara mulai memberikan kelonggaran akan hak wanita – wanita Indonesia

Saat sekarang dan dimasa depan wanita Indonesia harus tetap maju bergerak, memiliki inovasi-inovasi dengan didukung oleh daya kreativitas dan SDM yang mampuni, menjadikan dirinya sebagai kompetitor didalam arus globalisasi yang semakin penuh persaingan

Demikian pula halnya dengan Wanita-wanita Suku Asli Kalimantan harus mampu seiring dengan kemajuan jaman, menjadikan dirinya bukan sebatas seorang ibu rumah tangga saja, namun harus mampu membentuk dirinya menjadi wanita wanita karya dari berbagai aspek kehidupan baik di swasta, pemerintahan ataupun di dunia politik. Sebuah penghargaan, sebuah kehormatan yang akan di dapat oleh wanita-wanita suku asli Kalimantan  adalah sebuah buah dari mindset dirinya sendiri dalam membentuk kebuah kepribadian yang kreatif, inovafit dan mandiri.

JIka kita lakukan pendataan statistik tentang jumlah populasi wanita suku asli kalimantan di Kalimantan berbanding dengan jumlah mereka yang sukses baik di swasta dan pemerintahan, maka sudah dapat diprediksi persentasenya masih sangat rendah. Keberadaan hal ini hendaknya menjadi pemicu bagi wanita-wanita suku asli Kalimantan agar lebih memiliki semangat yang tinggi dalam untuk memperlihatkan, bahwa wanita suku asli kalimantan juga bisa sama dengan suku-suku lainnya dalam meraih kesuksesan.

Jika nantinya wanita-wanita suku asli kalimantan menjadi wanita-wanita yang sukses, maka hendaknya menjadi wanita yang Feminin dan mampu meletakan kodrat kewanitaannya baik dari norma bermasyarakat dan norma beragama. Mampu menjaga attitude baik dari berpakaian dan dari bahasa tubuh dan cara berpikir serta bertindak.  Walau Bagaimanapun tingginya pangkat dan kedudukan atau pun harta yang dimiliki wanita dari kesuksesannya, tetap berbajukan sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya dan tetap menjaga kehormatannya sebagai kodrat nya menjadi seorang wanita. Kehormatan wanita akan tetap utuh membingkai dirinya jika dia tetap konsisten menjadikan diri nya sebagai manusia yang memiliki kehormatan, bagaimana membingkai diri dengan sebuah kehormatan, itu kembali  pada sikap mental dan spiritual masing-masing dalam menyikapi hidup baik sebagai wanita karier, ibu rumah tangga, dalam konteks sebagai wanita feminin.

JIka wanita dapat menundukan dirinya dengan sempurna baik baik dari aspek norma-norma umum maupun norma agama, mampu memiliki SDM yang mampuni dan memiliki attitude yang baik, apalagi jika mampu menjadi seorang creator dalam hal membantu meningkatkan ekonomi keluarga atau menjadi seorang competitor baik di dunia bisnis ataupun dunia politik.

Sebagai wanita kita harus senantiasa membangun dan mempertahankan rasa optimis, agar kita dapat mengoptimalkan potensi dalam diri untuk bisa bersaing secara positif dengan kaum adam, rasa optimis yang didukung daya kreativitas sangat bermanfaat walau hanya sebagai seorang ibu rumah tangga, karena akan menciptakan ide – ide kreatif untuk usaha-usaha rumahan, dimana nantinya dapat membantu suami dalam hal pendapatan ekonomi keluarga. Jika kita sebagai wanita mampu seperti itu  maka tentunya akan mendapat empati yang tinggi baik sesama kaum hawa dan khususnya kaum adam. Dengan demikian kita sebagai wanita dapat mengikuti dinamisasi kehidupan dengan tetap berpegang pada kodrat sebagai seorang wanita.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.