Take a fresh look at your lifestyle.

Kesombongan Diatas Harta Hasil Korupsi

34

Seseorang bisa saja mendapatkan kekayaan dengan begitu mudah, misalnya dengan melakukan tindak kejahatan korupsi, namun kadang ada yang berakhir di dalam kerangkeng akibat kehinaan prilaku yang memperkaya diri sendiri dengan memakan uang rakyat, ada juga sampai pada masa akhir hayat nya terlepas dari jeratan hukum.

 

Ditulis oleh : Helmi Gais ( 1.03.2021 )

telisiktuntas.com – Para pelaku tindak kejahatan korupsi tidak pernah merasa jera apalagi takut pada hukum, hal ini terbukti sampai dengan pemerintah membentuk  Komisi Pemberantasan Korupsi tahun 2002, untuk memperkuat pencegahan dan penindakan kasus tindak kejahatan korupsi, namun senatiasa kasus korupsi  terus terjadi. Pertanyaannya kenapa para koruptor tidak  pernah merasa takut akan hukum yang akan menjerat mereka, “ karena pada hukum  Allah SWT yang bersifat mutlak serta akan menjadi azab bagi mereka, yang bisa di terima di dunia dan pasti di terima di akhirat  mereka tidak merasa takut, apa lagi hukum yang di buat manusia.

Seseorang yang memperkaya dirinya sendiri dengan memakan uang rakyat, kemudian mempertontonkan kekayaan nya tersebut dengan penuh kebanggaan, tanpa pernah sedikitpun merasa bersalah atas prilaku nya yang hina tersebut.Jika bisa lepas dari jeratan hukum negara, namun tentunya tidak akan lepas dari jeratan hukum milik Allah.

Allah SWT telah memperingatkan tentang tindak kejahatan korupsi melalui firmannya : “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) hartamu itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).                           Juga firman-Nya dalam surah An-Nisa:29 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.”

Ada beberapa prilaku dari orang yang mendapat kekayaan dari hasil korupsi  :

  1. Mereka mempertontonkan kekayaan nya tersebut dengan penuh kebanggaan, tanpa pernah sedikitpun merasa bersalah atas prilaku nya yang hina tersebut dan menjadikan diri nya sombong dan jauh dari ibadah
  2. Mereka mendapat kan kekayaan dari hasil korup, menjadi sombong dan Taat beribadah
  3. Mereka mendapatkan kekayaan dari hasil korup, namun rendah hati dan taat beribadah

Yang jadi pertanyaan Bagaimana mungkin mereka yang taat beribadah sampai melaksanakan ibadah haji wajib dan berkali-kali umrah,  namun tetap rutin melakukan tindak kejahatan korupsi ? ada apa dengan ibadahnya, apa ada yang salah ? Wallahualam Bissawab.

Jelas ada  sebagian koruptor, dimana mereka tampil di tengah masyarakat seperti orang yang baik dan saleh,  membantu pembangunan mesjid, rutin sedekah pada anak yatim, membagi zakat yang banyak, berbagi pada fakir miskin, mengajak makan para teman-teman nya di rumah makan yang elite, senantiasa mengundang untuk berbuka puasa bersama  namun semua itu  hanya lah sebuah topeng kepalsuan, atau mungkin sebuah prilaku yang menurut pribadinya untuk mengurangi dosa-dosa nya.padahal dirinya sendiri mengetahui dengan pasti kalau hasil korupsi itu adalah haram.

Ada lagi hal yang lebih hina, adalah mereka yang menggunakan sebagian hasil korupsi nya untuk melakukan hal-hal maksiat, seperti secara rutin hadir dalam dunia malam, bersentuhan dengan alkohol, mungkin juga dengan narkoba,  berhubungan dengan wanita malam, atau mungkin rutin dengan judi

Pertanyaan selanjutnya secara psikis kok bisa harta kekayaan yang di dapat dari kejahatan korupsi menjadikan dirinya sombong di tengah kehidupan bermasyarakat, walau sebenarnya dirinya mengetahui bahwasanya Alllah SWT sangat murka terhadap hambanya nya berprilaku sombong, sebagaimana firman Allah SWT : “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS al-A’raf: 13).

Mereka yang sombong dengan harta korup tersebut bersifat apatis terhadap lingkungannya, keluarga dekatnya, jauh dari sifat sosial, senatiasa takut jika hartanya berkurang ( menghitung-hitung ), atau dengan kata lain kikir. Dia jadikan harta dari tindak kejahatan korupsi tersebut hanya untuk kesenangan dirinya sendiri.

Pamandangan seperti itu bukan hal yang tersembunyi di tengah-tengah kehidupan kita. Dan kembali kita saksikan juga disisi lain orang seperti itu juga seperti orang yang saleh yang taat dengan pelaksanaan rukun islam.

Susah kita mencerna nya dengan akal sehat, seseorang yang kaya dengan hasil dari korupsi, kemudian sombong namun taat ibadah. Mereka pun sebenarnya sudah mengetahui bahwasanya sifat sombong itu pertama kali di deklarasikan oleh iblis laknattullah. : Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)

Ayat lain tentang sifat sombong Allah SWT befirman “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Hadist Rasullullah : “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” ( HR. Muslim )

Kesombongan itu sangat lembut untuk bertengger pada hati dan akal manusia, kadang tidak terasa karena lembutnya, namun akan terplikasi melalui prilaku dan kata-kata, kesombongan itu bisa datang karena kekayaan, tahta, ilmu yang dimiliki, kecantikan, ganteng, kemulusan kulit dan lain sebagainya yang bisa dijadikan seseorang somong, namun kadang mereka yang sombong itu tidak merasa kalau dirinya senatiasa beprilaku sombong.

Kesombongan adalah prilaku yang akan merusak hubungan silaturahmi antar hubungan persaudaraan, kekeluargaan dan pertemanan, “ kesomongan mengcover diri senantiasa merasa benar atau merasa lebih dari orang lain “. Kesomongan itu akibat seseorang tidak mengenal akan dirinya tidak mengetahui akan hak-hak Allah terhadap dirinya serta sesungguhnya telah merapas akan hak mutlak Allah SWT.

Leave A Reply

Your email address will not be published.